Isu Beras Plastik, Ulah Mafia Pangan

0
491

beraseeeSEMARANG,Zonadinamika.com – Isu beras plastik diduga kuat merupakan bagian dari ulah permainan mafia pangan, khususnya beras impor. “Sejak awal kasus ini mencuat, saya sudah curiga bahwa ini permainan dan rekayasa para mafia pangan,” tegas anggota Komisi IV DPR, Firman Subagyo kepada SP, Rabu (27/5).

Politisi Partai Golkar ini meminta masyarakat mewaspadai berbagai rekayasa dan permainan para mafia pangan yang kerap menghembuskan berbagai isu ke masyarakat. “Setiap menjelang hari-hari besar, seperti bulan Ramadan, Idul Fitri, atau Natal dan Tahun Baru, berbagai isu terkait komoditas pangan selalu terjadi,” ujarnya.

Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPR ini menjelaskan, belum lupa dari ingatan kita beberapa waktu lalu adanya isu kelangkaan kedelai di pasaran, sehingga harga kedelai menjadi mahal. Akibatnya pengrajin tahu tempe merugi. Padahal, itu semua akibat rekayasa dan permainan para mafia impor dan perusahaan-perusahaan yang selama ini menjadi bagia dari mafia pangan.

Firman juga menyatakan, patut pula dicurigai pernyataan-pernyuataan Ibu Dewi di Bekasi yang pertama kali melemparkan soal beras plastik ke publik sehingga menghebohkan masyarakat. “Konon katanya, dia (Dewi) hanya seorang penjual bubur dan nasi uduk, namun mampu membuat pernyataan dan mempostingnya ke media sosial, sehingga membuat heboh dan panik masyarakat, hingga Tiongkok juga ikut terusik karena disebut-sebut sebagai asal beras plastik tersebut,” ujar politisi asal Pati, Jateng ini.

Menurut Firman, terlepas benar atau tidak pernyataan Ibu Dewi, hasil uji laboratorium Polri, BPOM, Kemtan, dan LIPI menyatakan ternyata beras tersebut tidak mengandung plastik. Meskipun sebelumnya hasil pemeriksaan Sucofindo menyatakan mengandung senyawa plastik.

“Ini menunjukan, ada sebuah skenario dan agenda besar dari kelompok mafia yang sengaja ingin menghancurkan pasar, yang selama ini menjual produk beras petani lokal. Maka, kami meminta agar aparat penegak hukum, tak hanya berhenti pada uji lab, namun mengusut tuntas kasus ini dan membongkar para mafia pangan,” tegasnya.

Polisi juga diminta memeriksa Ibu Dewi, sehingga terungkap apa maksud dan tujuan, serta mengungkap siapa otak di belakang warga asal Bekasi itu. “Jika terbukti Ibu Dewi menjadi bagian skenario dan rekayasa para mafia pangan, harus diberi sanksi tegas, karena telah membuat kegaduhan dan kepanikan di masyarakat,” tegasnya.

Presiden Jokowi juga harus melakukan evaluasi menyeluruh atas kinerja pembantunya, terutama Kementerian Perdagangan (kemdag), Kementerian Keuangan (Kemkeu), dan Bea Cukai yang mempunyai otoritas kepabeanan, karena telah lalai melaksanakan tugas-tugasnya sebagaimana diamanatkan UU Kepabeanan Nomor 17 tahun 2009.

“Sudah saatnya DPR dan pemerintah meninjau ulang UU tersebut dan merevisinya agar ada sistem pelayanan terpadu di kepabeanan, sehingga tak selalu kebobolan ekspor impor. Beberapa waktu lalu, Bea Cukai kebobolan impor daging sapi, sapi hidup, gula, bawang merah, bawang putih, beras, elektronik, hingga pakaian bekas ilegal,” tegasnya. (bud/b1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here