Pengacara Conti Sebut Wakabareskrim Intervensi

0
617

hotel BBC batamBatam Zonadinamika – Pengadilan Negeri Batam kembali menggelar sidang kasus penggelapan Hotel BCC tanggal (26/06) dengan terdakwa Conti Candra, dua saksi ahli berhalangan hadir. Aji Satrio  Perkoso selaku JPU membacakan keterangan dua saksi  ahli, yakni Erna dan Chairul Huda , sebagai mana yang tercatat dalam berkas acara pemeriksaan ( BAP ).

Dalam sidang kemarin dipimpin ketua PN Batam, Khairul Fuad dengan anggota majelis Hakim Budiman Sitorus dan Alfian. Sementara terdakwa Conti Candra hadir didampingi Alfonso Napitupulu dan Muhammad Rum sebagai penasehat hukum ( PH ).

Keterangan kedua saksi yang dibacakan oleh JPU menerangngkan, dalam pasal 374 dan 372 KUHP penggelapan jabatan yang dilakukan terdakwa sudah terpenuhi. Karena terdakwa telah menguasai dokumen perusahaan tanpa hak, seperti akte no 3, 4, dan 5. Akan tetapi dalam Akte No 3, 4, dan 5 adalah bukti adanya transaksi jual beli saham. Atas keterangan kedua saksi yang dibacakan JPU perbuatan terdakwa menguasai dan menyimpan Akte tersebut tanpa hak, merupakan perbuatan melanggar hukum. Unsure pasal 374, dan 372, KUHP telah terbukti.

Atas keterangan kedua saksi ahli yang dibacakan JPU, atas terdakwa dan PH nya Muhammad Rum menanggapi langsung dan mengatakan saksi ahli sebatas kunstruksi hukum, karena pada saat pembuatan Akte tersebut ada beberapa pihak yang tidak hadir dihadapan Notaris pembuat Akte Anly Cenggana.

Seharusnya sesuai pasal 16 ayat (1) huruf L UU No 2 Tahun 2004 Tentang jabatan Notaris, para pihak harus hadir dihadapan Notaris dan melakukan penandatanganan Akte pada hari itu juga. Pasalnya, sambung dia beberapa saksi yang dihadirkan dipersidangan telah mengakui menanda tangani akte setelah beberapa hari kemudian, bukan pada saat itu dibuat.

Muhammad Rum PH Conti Candra menjelaskan dipersidangan, bahwa keterangan saksi ahli hanya menggambarkan undang-undang saja, sesuai  keterangan saksi dalam BAP yang dibacakan  JPU, tidak menggambarkan fakta hukum. Mestinya harus dijelaskan juga bagaimana hukumya jika akte dibuat tanpa dihadiri kedua pihak.

Sementara PH terdawa menghadirkan dua saksi lain sebagai saksi fakta, masing-masing Rosa Presiden direktur PT Liem  Bros dan Sugiarto, Kedua saksi itu merupakan  kontraktor yang pernah melakukan pekerjaan di BCC Hotel dan apertemen. Dua saksi terebut menceritakan tentang pembayaran terkait supplier  dan contractor pemasangan air conditioner AC atau mein pendingin ruangan.

Kedua saksi menjelaskan pekerjaan mereka memasang AC sebanyak 400 unit dan gorden, dibanyar menggunakan  Cek atas nama Conti Candara sebanyak 7 kali. Dalam pembayaran pekerjaan itu tidak pernah ada masalah dan sudah selesai. Terkait masalah penjualan 11 apertemen saya takdak tahu, dan tidak ada urusan. Kata saki Rosa.

PH terdakwa serahkan bukti

Dalam persidangan itu, Alfonso Napitupulu  PH terdakwa menyerahkan surat pemberitahuan perkembangan hasil pemeriksaan Provam dari Divisi Porfesi dan pengamanan  Mabes Polri kepada majelis hakim sebagai alat bukti.

Dalam surat bernomor  B/217/IV/2015/Divprovam menjelaskan surat perintah kepada provam Polri Nomor prin/180/111/2015 tanggal 4 maret 2015 melaksanakan audit investigasi terhadap dugaan pelanggaran kode etik  Propesi Polri berupa interpensi Wakabareskrim  Polri.

Hasil audit menyatakan bahwa pelapor dalam kasus BCC ini tidak memiliki kompetensi karena pelapor sendiri merupakan warga Negara Singapura.Selain itu, hasil audit juga menyebutkan  bahwa Direktur Direskrimum Polda kepri pernah diintrevenisi oleh penyidik Bareskrim Polri dan memerintahkan untuk melakukan penahanan terhadap Conti Candra.

Hasil audit investigasi terhadap perbuatan penyidik subdit 1Ditipidum Bareskrim Polri yang telah menetapkan  Tjipta Fudjiarta sebagai terangka, telah sesuai dan memenuhi bukti  material dan pormil  memenuhi siarat adanya alat bukti dokumen  transfer yang palsu  serta adanya alat bukti tentang tidak adanya pembayaran sebagaimana yang dituangkan dalam akte notaris yang digunakan oleh tersangka Tjipta Fudjiarta.

Seolah olah pernah melakukan pembayaran terhadap pemegang saham lain nya  selain Conti Candra. Selain itu, keterangan saksi pemegang saham tidak pernah menerima pembayaran dan tidak pernah merasa melakukan penjualan saham terhadap tersangka Tjipta Fudjiarta.

Alfonso Napitupulu PH Conti Candra menduga bahwa Tjipta Fudjiarta sudah 1 tahun ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim  Polri. Seharusnya berkanya dilimpahkan ke Jaksa Agung , namun malah dilimpahkan ke direktorat Tindak Pidana  Khusus  Bareskrim Polri. Ini menjadi pertanyaan kami sebagai kuasa hukum  terdakwa. Dan kami akan bekerja keras untuk mencari bukti bukti lainya. (Ngl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here