51 Bangunan Liar di Atas Saluran Jakut Dibongkar

0
418

Jakarta- Zonadinamika.com. Sebanyak 51 bangunan liar yang berdiri di atas saluran penghubung (PHB) di Jalan Bandengan Selatan, RT16/RW01, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara (Jakut), Selasa (9/2) dibongkar oleh petugas gabungan.

Keberadaan bangunan liar tersebut selama ini membuat wilayah ‎Kompleks Perum Arwana yang berada dekat dengan permukiman tersebut rentan tergenang banjir dan kebakaran karena posisinya yang saling berdempetan dan menghambat saluran air menuju PHB Tengah di antara persilangan (crossing) RW 01 dan RW 02 Jalan Bandengan‎.

Dari komplek Perum Arwana, saluran tersebut berasal dari RW 01 dan RW 02, menuju persilangan Kali Bandengan Selatan lanjut ke saluran penghubung tengah Jalan Bandengan.

Camat Penjaringan, ‎Abdul Khalid, mengatakan penertiban bangunan tersebut bisa berjalan dengan lancar dan kondusif karena pihaknya sudah melakukan pemberitahuan sejak beberapa pekan lalu.

“Mereka ini membangun dan menempati lokasi tersebut secara ilegal, bahkan banyak dari mereka yang sudah mengontrakkan bangunan tersebut ke orang lain,” ujar Abdul, Selasa (9/2) siang di lokasi pembongkaran.

Abdu‎l mengungkapkan, 51 bangunan liar tersebut dihuni oleh 50 kepala keluarga yang menempati lokasi tersebut dengan cara menyerobot saluran air dan membangun bangunan tempat tinggal yang kebanyakan semi permanen.

Pembongkaran tersebut ‎juga mengerahkan puluhan personil gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja Kecamatan Penjaringan, Petugas Pemeliharaan Sarana Prasarana Umum (PPSU) Kelurahan Pejagalan, serta Koramil Penjaringan dan Polsek Metro Penjaringan.

“Kita sudah minta kepada mereka untuk membongkar sendiri bangunannya, namun karena membandel makanya kita bongkar ‎bangunan mereka yang didominasi triplek, seng, kayu, maupun dinding permanen batu bata,” tambah Abdul.

‎Ia mengungkapkan, terkait nasib dari warga di lokasi tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Suku Dinas Sosial Jakarta Utara untuk dibantu dalam biaya pemulangan ke kampung halamannya masing-masing.

“Tidak ada penggantian untuk rusun, ‎karena mereka yang tinggal di bangunan tersebut kebanyakan adalah pengontrak, sedangkan pemiliknya yang selama ini menikmati uang sewa kontrakan yang berkisar Rp 150.000 sampai Rp 300.000 per bulan, bahkan ada yang dijual Rp 10 juta untuk lapak ukuran 3×2 meter,” ungkapnya.

Sementara itu, Subendi (34), warga yang bangunannya dibongkar mengaku sudah tinggal di lokasi tersebut selama 15 tahun terakhir karena harga tanah di Kota Jakarta tidak terjangkau untuk dirinya.

“Makanya akhirnya saya bangun sendiri bangunan di pinggir saluran air ini, ya kalau dibongkar suatu saat itu namanya sudah risiko, tapi saya tidak mengontrakannya. Ini saja cuma satu petak yang saya punya,” aku pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak itu.

Ia mengungkapkan, ‎dirinya akan pindah ke rumah kerabatnya di Tangerang Selatan untuk sementara waktu daripada kembali ke kampung halamannya di Garut, Jawa Barat.

“Kalau balik ke kampung saya tidak ada pekerjaan di sana, makanya paling sementara waktu mengungsi dulu ke rumah kerabat sembari menunggu ada lokasi baru yang bisa ditempati,” tutup Subendi. (AN/B1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here