Kadis Cipta Karya Dedi Ahdiyat Sosok Pejabat Pengecut

0
673

KARAWANG,Zonadinamika.com. Kehadiran oleh puluhan warga dari tiga desa dari Kecamatan Telukjambe Barat, bukan untuk meminta jatah proyek. Para warga ini sengaja mengepung Kantor Dinas Cipta Karya setempat pada Selasa (14/6).

Mereka adalah korban sengketa tanah oleh PT BMI anak perusahaan dari PT Agung Podomoro Land (APL), para warga datang ke kantor Cipta untuk mendesak Dinas Cipta Karya agar secepatnya mengeluarkan Surat Penetapan Perintah Bongkar (SPPB) terkait pendirian secara ilegal kantor pemasaran dan reklame milik PT BMI.

Jhonson Panjaitan selaku Kuasa Hukum warga tiga desa tersebut, mengatakan, bahwa sebelum datang ke Dinas Cipta Karya, sebenarnya warga sudah menempuh usaha lain bersama pemerintah hingga beberapa waktu lalu sudah ada penyegelan dari Satpol PP Karawang.

Pihak pemerintah bukannya melakukan penghentian pembangunan Namun anehnya kantor pemasaran, justru PT BMI malah terus lanjut membangun hingga saat ini. kata Jhonson
“Pembongkaran itu kewenangannya ada di Pemda Karawang dalam hal ini Dinas Cipta Karya yang bisa mengeluarkan SPPB. Dalam sistem manajemen, surat itu keluar dari bagian Wasdal yang ternyata orangnya tidak hadir di hadapan kami saat ini,” ujar Jhonson, kemarin.

Para korban “perampasan tanah” oleh Jhonson menjelaskan,bahwa kedatangan untuk memintah keadilan akibat ulah pihak PT BMI ini sudah jelas yaitu meminta agar SPPB segera dikeluarkan oleh Dinas Cipta Karya. Namun justru jawaban yang diterima oleh warga dari perwakilan pejabat Dinas Cipta Karya yang menemui warga, saat itu diluar dugaan.

Menurut Jhonson, Dinas Cipta Karya mengaku tidak bisa mengeluarkan SPPB karena ada kekosongan payung hukum. Pasalnya, Peraturan Bupati (Perbup) terkait pembongkaran yang sudah dibuat tahun 2014 lalu itu ternyata baru berbentuk draf saja.

“Dengar jawaban itu saya kaget, lalu dasar hukum Pemda membongkar rumah-rumah rakyat itu apa. Berarti kalau ke masyarakat efektif, tapi kalau ke PT APL tidak bisa (tumpul). Kalau begitu jangan salahkan jika rakyat curiga Dinas Cipta Karya ‘masuk angin’ dong, dari APL. Karena kami datang ini bukan mendadak, tapi sudah kami perjuangkan setahun lebih,” pungkas Jhonson.

Pantauan di Aula Dinas Cipta Karya, puluhan warga yang mayoritas sebagai petani ini merasa kecewa karena pejabat yang berkepentingan di dinas tersebut justru tidak mau menemui para petani. Mereka mengancam akan terus menduduki Kantor Dinas Cipta Karya sampai Kadis Cipta Karya mau datang menemui mereka.

Warga menilai kadis cipta karya tidak bedahnya seperti sosok pejabat bermental pengecut karena tidak berani menghadapi warga yang tertintas. (fer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here