Gereja Papua Kini Menyepelehkan Hak Asasi Umatnya

0
549

 

Opini Oleh: Wihai Boma

 

PAPUA,Zonadinamika.com. Manusia berbicara tentang pembangunan Gereja di Tanah Papua maka kita akan berbicara tentang pembangunan gereja berbentuk fisik dan non fisik. Pembangunan  gereja  fisik yaitu pembangunan gedung-gedung sebagai  tempat berkumpulnya umat Allah untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Sedangkan pembangunan gereja non fisik yaitu pembangunan terhadap umat yang berkumpul karena iman  akan Kristus. Pembangunan non fisik tidak terlepas dari hak dasar manusia yang seharusnya diperjuangkan oleh gereja lokal. Dengan membedakan gereja fisik dan non fisik yang ada dalam tubuh gereja, kita akan menemukan pembangunan segi mana yang menonjol di Tanah Papua?

Jika kita jelih melihat, Gereja Papua sedang berlomba-lomba membangun gedung gereja di mana-mana. Semuanya mewah dan kuat. Banyak orang yang merasa aman dan nyaman dengan adanya gedung gereja yang banyak dan mewah, orang merasa hidup dalam damai sejahtera dan kasih Allah. Dana pembangunan dari para pejabat pemerintah berlomba-lomba menyumbangkannya.

Kader gereja dan para pejabat seakan berbagi kesusahan untuk mendirikan gereja. Seluruh tanah air Papua penuh dengan gedung gereja yang gagah perkasa, tahan gempa dan bencana alam lainnya adalah keyainan umat.

Bagusnya bahwa semua umat yang ada di tanah Papua berkumpul di bawah gedung gereja baru untuk memuliakan Allah sesuai kepercayaannya. Namun penulis menemukan indikasi utama bahwa Gereja Papua membangun gedung daripada membangun umat Allah.

Hak-hak dasar umat Kristiani harus dibangun daripada gedung Gereja yang mati itu. Seharusnya biaya dimungkinkan keluar lebih banyak untuk gereja non fisik dari ada untuk membangun gedung fisik. Hal yang harus dibangun manusia beriman megah sedangkan gedung tidak perlu dibangun semegah mungkin.

Ketika pastor-pastor paroki berlomba-lomba membangun gedung gereja, isinya semakin jauh dari apa yang seharusnya. Gedung gereja diutamakan maka isinya bukan manusianya tetapi kemegahan yang tiada makna. Pentingnya orang kristen (iman) tinggal teori. Teori iman mulai kendor ketika kita sibuk meluluh pembangunan fisik.

Iman umat tidak lagi menjadi perhatian utama berarti hak-hak dasar hidup umatnya tidak diperjuangkan oleh seorang pemimpin Gereja sehingga seenaknya saja umat lokal disingkirkan dari gereja sebagai gereja yang benar. Gereja lokal Papua kini telah merubah wajah kelokalan karena para pastor tidak lagi memperhatikan hak asasi manusia yang adalah umat Allah di Papua. Bangunan itu penting tetapi isi bengunan lebih penting daripada gedung gereja yang mewah.

Jika demikian, kapan pemimpin Gereja Papua akan fokus membangun umat Allah (gereja yang sebenarnya)? Ataukah para pemimpin hanya membangun gedung gereja sebagai tempat persembunyian jika ditanya? Apakah melalui gedung gereja kita dapat menemukan Allah? Dalam tubuh Gereja Papua sedang terbangun gedung gereja mewah di mana-mana, baik tingkat paroki maupun tingkat keuskupan tapi untuk siapa?

Untuk menjawab beberapa pertanyaaan di atas, penulis mau memberikan jawaban satu-satu kalimat sebagi pintu masuk refleksi hidup ke depan kita. Semua pemimpin masyarakat juga adalah pemimpin Gereja maka hak-hak dasar jemaatnya harus diperjuangkan agar iman tetap kuat.

Setahu kami adalah pemimpin gereja sudah berfokus membangun gedungnya dibanding orang Papua maka ada indikasi gedung gereja menjadi tempat persembunyian sang gembala umat. Mereka boleh saja membangun gereja yang besar dan gagah pergasa tapi kasihan juga karena mereka tidak akan menemukan Tuhan di atas tanah ini. Para pemimpin gereja merasa akan menemukan Tuhan dalam gedung Gereja yang mewah tetapi sampai mati pun tidak akan ditemukan, jika tidak melalui  umat Allah di Papua.

Visi-misi mereka tidak relevan dengan visi-misi Kristus karena perhatian dan focus gereja serta keberpihakan semakin kabur karena gedung gereja dibangun akibat banyaknya transmigran.

Harapan penulis agar semua pemimpin gereja di Papua stop membangun gedung gereja semewah mungkin sebelum manusianya dibangun dalam iman kristiani. Bila perlu cara membangun gedung gereja digunakan untuk membangun manusianya. Jangan pergunakan kelemahan Umat asli Papua untuk menjadikan gereja sebagai lembaga tranmigrasi, lembaga tenaga kerja dan lain sebagainya.

Sudah seabad lebih gereja ada di Papua yang ada adalah tenaga-tenaga Transmigrasi, para pendatang yang menjajah, mencari keuntungan dan memperbesar gedung untuk mendatangkan orang-orangnya. Kesimpulannya “marilah pemimpin gereja menjadi pejuang HAM dalam kekrisisan pemimpin di Papua.”

 

Penulis adalah Wihai Boma Aktivis Papua

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here