Ada Apa Pertemuan JPU dengan Terdakwa di Restoran Alam Sari?

0
1087

KARAWANG-Zonadinamika.com.Pencanangan zona integritas anti korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) di lingkungan Kejaksaan sedang digalakkan dengan melarang jaksa-jaksa bertemu dengan terdakwa atau tersangka. Laranganpun ini sesuai arahan Kejagung tentang profesionalisme dan zona anti KKN di kantor kejaksaan.

 

Agaknya zona integritas tersebut buat oknum jaksa bernama  WISNU yang bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum dalam kasus penganiayaan,bahwa integritas tersebut hanya sebagai korek kuping belaka.

Ditengah bergulirnya kasus penganiayaan yang sempat mengalami penghambatan di kepolisian akibat ulah oknum polisi dan oknum-oknum lain dari berbagai profesi ini, akhirnya tuntas hingga P21 di kejaksaan.

Hasil pengamatan zonadinamika.com  dalam perkembangan kasus penganiayaan yang dilakukan oknum pengusaha di bidang koperasi simpan pinjam berinisial Harianja  dengan seorang mantan karyawanya bernisial Tumanggor hingga bermuara pada hukum.

HRJ selaku terdakwapun tidak dilakukan penahanan alias di berikan kebebasan oleh jaksa berkeliaran dengan bebas,tanpa jelas alasanya.

Ironisnya, oknum jaksa bernama WISNU ini sepertinya sedang bergeria melakukan lobi-lobi khusus pada HRJ selaku terdakwa,bahkan dilakukan di jam kerja, di sinyalir untuk berupaya memutarbalikkan atau dugaan untuk memperjualbelikan pasal pada terdakwa demi upaya merauf keuntungan dari terdakwa.

Pasalnya, hasil pengintaian wartawan zonadinamika.com terhadap gerak-gerik WISNU terungkap, bahwa yang di sebut-sebut JPU dalam kasus penganiayaan tersebut melakukan pertemuan terselubung hingga dua kali, pertama di sumarecon Bekasi dan restoran alam sari kawasan BIC tanggal 20/09/2016 berkisar jam 10 sampai jam 12 siang yang disaksikan langsung oleh wartawan zonadinamika.com.

WISNU dengan memakai kemeja lengan pendek dengan warna gelap dan menenteng tas pinggang, melakukan bincang-bincang dengan Sinaga di sebuah ruangan dan dilanjutkan pertemuan dengan keluarga korban bersama terdakwa Harianja yang memakai kaos merah di ruang utama restoran alam sari yang berada di kawasan industry BIC.

Usai pertemuan WISNU sempat mondar mandir dalam ruangan restoran sambil menelepon, sementara Harianja usai membayar pesanan langsung meninggalkan restoran yang kemudian di susul oleh WISNU,sementara keluarga korban tinggal dalam restoran.

Keluarga korban penganiayaan asal Bandung ketika ditemui wartawan di restoran alam sari,mengakui bahwa dirinya duduk bersama antara WISNU,Harianja,Sinaga adalah untuk membahas soal rencana perdamaian antara Tumanggor dengan terdakwa Harianja dan bantu oleh JPU WISNU

WISNU ketika di konfirmasi di kantin pengadilan negeri (PN) Karawang 23/09 seputar pertemuan yang dilakukanya dengan terdakwa Harianja bersama Sinaga selaku kuasa hukum dan seorang keluarga Tumanggor sebagai korban penganiayaan, WISNU mengelak bahwa pertemuan tersebut hanyalah membahas bisnis bersama Sinaga, pertemuan di jam kerja tersebut hanya sebatas membicarakan bisnis, bahkan dirinya tidak mengetahui bahwa Harianja sedang dalam proses hukum di kejaksaan.

“Saya hanya bertemu dengan Sinaga untuk membahas soal bisnis,dan saya tidak bertemu dengan HRJ dan keluarga Tumanggor apalagi membahas soal perkara penganiayaan antara Harianja dengan Tumanggor, apa salah bila saya berbisnis? Ayo di mana salahnya? Bahkan mengaku tidak merasa  takut bila dilaporkan pada atasanya.

“Saya tidak dilibatkan dalam penanganan kasus HRJ, apalagi sebagai Jaksa Penuntut Umum”, jawabnya dengan nada tinggi.

Disinggung dirinya sebagai aparat penegak hukum berada di restoran pada jam kerja bersama salah seorang pengacara dan terdakwa yang sedang berperkarah dilingkungan kejaksaan negeri Karawang, WISNU yang sempat bernada tinggi, langsung diam dan tidak bisa memberikan jawaban sambil otak-atik HP miliknya,dan berlalu dengan alasan ingin bersidang. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here