KAMPUNG ADAT MATABESI SIAP JADI TEMPAT WISATA BUDAYA

0
560

ATAMBUAH NTT-Zonadinamika.com,Terletak dipinggir kota Atambua Kampung Adat Matabesi mulai dilirik untuk dijadikan sebagai sebuah obyek wisata Budaya. Jaraknya yang begitu dekat dari kota Atambua sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekalian berolahraga sambil menikmati suasana alam yang masih asli dan dapat menghirup udara segar yang masih alami. Kampung adat yang usianya sudah beratus-ratus tahun ini kini hanya terdapat beberapa rumah suku beberapa rumah penduduk yang menjaga areal perkampungan nenek moyang suku Matabesi dan beberapa suku lainnya di puncak bukit Lidak ini.

“Pemerintah Kabupaten Belu akan mengembangkan kawasan kampung adat Mat besi ini sebagai suatu kawasan wisata budaya, untuk itu kawasan ini akan mulai ditata dengan tetap menjaga keasliannya,” ungkap Bupati Belu Willybrodus Lay, SH saat kegiatan penghijauan yang dilakukan di Bukit Lidak bersama para PNS dan masyarakat setempat Jumad, (16/12).

Keaslian yang harus tetap dijaga, lanjut Bupati Willy, adalah rumah-rumah adat tersebut akan dipugar dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya dan bahan yang digunakan tetap sama. Tidak boleh ada listrik yang masuk ke areal perkampungan adat tersebut, penerangan akan menggunakan jenis tumbuhan tertentu yang dulunya digunakan oleh nenek moyang dan kendaraan bermotorpun tidak boleh masuk sampai daerah perkampungan.

“Sumber mata air alami yang dulunya sangat besar airnya kini semakin berkurang hal ini diduga karena hutan di sekitarnya tidak terawat dengan baik sehingga pemerintah bersama masyarakat melakukan penanaman anakan tumbuhan sepe atau flamboyan merah yang dalam bahasa daerah disebut pohon Sama Tuku, fungsinya tidak saja untuk mernahan air namun disaat bulan Desember menjelang Natal tumbuhan ini biasanya mulai berbunga sehingga semakin menambah keindahan Bukit Lidak, yang jika dilihat dari jauh semua tampak merah,” lanjut Bupati Willy.

Upaya Pemerintah untuk menata kawasan pemukiman suku Matabesi dan melakukan penghijauan di lokasi tersebut mendapat apresiasi dan dukungan dari Ketua suku Matabesi Wendelinus Manek yang turut hadir bersama masyarakat melakukan penghijauan. Menurut Ketua suku, niat baik pemerintah ini akan didukung sepenuhnya oleh dirinya dan segenap anggota suku.

“Saya sebagai ketua suku dan segenap anggota suku yang berada di Bukit Lidak ini akan melanjutkan dan merawat apa yang sudah dilakukan pemerintah, dan kedepan tidak hanya pohon sama tuku yang ditanam tapi akan ditanami juga dengan tanaman lain yang bisa bermanfaat bagi ekonomi masyarakat seperti mangga, jambu mente, sukun dan lain sebagainya,” tegas Manek.

Manek juga menggharapkan agar pemerintah Kabupaten Belu segera merampungkan perencanaan tata ruang kawasan bukit Lidak yang dulunya didiami nenek moyang suku Matabesi Lawalu yang berbatasan langsung dengan kota Atambua sehingga bisa menjadi daya tarik bagi tamu luar negeri atau yang berasal dari luar pulau untuk berkunjung ke perkampungan tua tersebut.

Kebiasan para leluhur memilih lokasi untuk tempat tinggal di daerah ketinggian selain untuk bisa mendapatkan sumber mata air juga alasan keamanan dimana saat ada musuh yang ingin datang menyerang mereka sudah bisa melihat dari jauh dan mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan.

Sepintas di areal pemukiman suku Matabesi atau sering di sebut Kampung Lama Lidak masih ada beberapa rumah adat yang berdiri kokoh, konon sesuai keyakinan leluhur salah satu rumah adat yang ada di daerah tersebut tidak boleh dimasuki oleh kaum perempuan karena akan menyebabkan kemandulan atau tidak memiliki keturunan.

Selain rumah adat, keunikan lain yang dapat terlihat di sana ada beberapa pohon beringin yang unik yang telah berumur ratusan tahun yang salah satunya bernama Hali Raik atau beringin rendah yang sejak dulu kala sampai saat ini tumbuhan tersebut tidak bertambah tinggi dan besar.

Ada juga 2 pohon beringin lainnya yang disebut Beringin cinta, dimana walaupun jarak antara keduanya kurang lebih 5 meter namun salah satu ranting menghubungkan kedua pohon beringin tersebut menjadi satu seolah sedang bermadu cinta. (Hsb/Nus Feka).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here