Merasa Tidak Mampu Bersaing Secara Sehat,Tempat Ibadah Gunakan Kampanye?

0
335
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno memberikan sambutan usai Shalat Ashar di Masjid Blok B Tanah Abang, 9 Maret 2017. (BeritaSatu Photo/Carlos Roy Fajarta)

JAKARTAZonadinamika.com. Suasana politik menjelang pencoblosan di pilgub DKI terus memanas, berbagai cara di lakukan oleh sejumlah pihak untuk memenangkan jagoanya.

Berbau SARA yang selama ini mengumandang membuat banyak pihak kebingunan dan berpikir takut masuk neraka karena kesalatafsiran banyak pihak.

Lagi0lagi  Juru Bicara (Jubir) pasangan Basuki-Djarot, Ansy Lema mendesak KPU DKI dan Bawaslu segera mengambil tindakan tegas terhadap setiap bentuk pola-pola kampanye yang dengan sengaja mengeksploitasi sentimen agama. Yang terbaru adalah adalah aksi politisasi masjid yang sempat viral di media sosial karena secara terang-terangan menggunakan rumah ibadah sebagai sarana kegiatan politik.

Ansy mengungkapkan kekhawatirannya jika kondisi ini didiamkan oleh lembaga penyelenggara pemilu. Karena, model kampanye seperti itu akan diikuti oleh daerah-daerah lain yang menghalalkan segala cara untuk memenangi sebuah kompetisi.

“Kalau pembiaran ini dilakukan, seolah-olah masyarakat merasa bahwa ini praktek yang benar, padahal aturan itu secara tegas, jelas dan lugas mengatakan bahwa rumah ibadah itu tidak bisa dijadikan tempat berkampanye,” kata Ansy, Rabu (5/4) di Jakarta.

Apa yang sudah terjadi, menurutnya, sudah memperlihatkan adanya kepanikan pihak-pihak tertentu lantaran merasa tidak mampu bersaing secara sehat dengan beradu gagasan yang sifatnya konseptual.

“Pihak yang menggunakan isu agama untuk berkampanye sebenarnya membuktikan dia tidak punya kepercayaan diri dan kemampuan untuk bersaing dari sisi rekam jejak, visi, misi dan program kerja. Mestinya yang didorong adalah kontestasi program, jadi perdebatan yang sifatnya programatik, bukan perdebatan yang mengeksploitasi sentiment sara,” ungkap dosen FISIP UNAS itu.

Pihaknya pun menyayangkan masih dipergunakannya isu-isu SARA sebagai bahan jualan politik. Kemunculan video tersebut membuktikan adanya sebuah perbedaan kelas yang tegas antara bentuk-bentuk kampanye yang digunakan pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi.

Menurut Ansy, bagi Basuki-Djarot, yang utama dalam sebuah kontestasi politik adalah edukasi dan literasi politik kepada masyarakat bukan semata-mata urusan menang atau kalah.

“Jualan politik Basuki-Djarot berupa rekam jejak, visi misi dan program kerja. Kami (kubu) Basuki-Djarot sangat anti dan pantang menggunakan atau mengeksploitasi sentimen SARA, khususnya agama untuk sekedar mendapatkan kekuasaan,” ungkapnya.(Bayu).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here