Dengan Alasan Ada Teman Yang Bantu, Bidan Desa Peras Pasien?

0
235

Tapteng-ZonadinamikaNews.com.Perlakuan oknum bidan desa di dusun Lae Hundulan Kecamatan Tarabintang Kabupaten Humbanghasundutan Provinsi Sumatera Utara, sungguh tidak manusiawi dan bertindak seenak jidatnya demi mencari keuntungan semata.

Salah seorang warga yang membutuhkan pertolongan persalinan harus mengelus dada atas perlakuan sang bidan yang kurang perhatian pada masyarakat yang membutuhkan, namun azas mamfaatlah yang di lakukan.

Bidan desa yang tidak mau menempati pasilitas negara yang disediakan untuk melayani kesehatan pada masyarakat ini, patut di pertanyakan sifat kemanusianya dan sumpah tugasnya, sebab dari pengamatan warga sang bidan desa dalam melakukan tugasnya tidak layaknya sebagai pelayan masyarakat.

Akibat tidak dipungsikanga poskesdes (pos kesehatan desa) akhirnya membuat warga kelimpungan saat membutuhkan pertolongan, bahkan bidan desa ini tidak sengan sengan menarik dana yang besar dari warga, dan terjadi lagi dugaan pemerasan terhadap warga dusun Laehundulan ketika hendak mau bersalin,Ironisnya,pasien tersebut,harus digendong kepuskesmas,dengan alasan hari minggu.

Sang bidan desa mematok atministrasi Rp.900.000.dengan alasan ada temanya yang membantu,atas kekecewaan masyarakat tersebut,harus kepus kesmas berjarak 5,sampai 6 km dari poskesdes menuju puskesmas dusun Lae Hundulan dn hrus membayar atministrasi.dan korban dengan membayar tinggi bukan cuma satu, tapi banyak.

Diberitakan sebelumnga, Keberadaan pos kesehatan desa yang berada di desa Lae Hundulan, Kec,Tarabintang, Kab ,Humbang Hasundutan tidak berguna dan tidak dipungsikan sebagaimana program pemerintah dalam menyokong kesehatan masyarakat di desa.

Karena poskesde ini tidak ditempati sebagaimana layaknya pos kesehatan untuk masyarakat yang membutuhkan, kosongnya poskesdes ini sudah terjadi sejak tahun 2015..2016..2017..2018.2019.

Patut diduga tenaga medis yang ditugaskan untuk menempati poskesdes ini dicurigai bahwa tidak melaksanakan tugasnya sesuai tupoksinya dan keberadaan jenis obat-obat yang diadakan pemerintahpun dicurigai penggunaanya atau peredaranya.

Menurut warga setempat, bahwa bidan desa jarang nongol dan kadang hanya 2 x dalam satu minggu, dan bidan lebih memilih mencari kontrakan ketimbang menempati pasilitas yang disediakan pemerintah.

Ironisnya, jarak tempuh kontrakan 5 sampai 6 km dari poskesdes yang hal ini akan berdampak terhadap kelancaran pelayanan medis pada masyarakat.dan kondisi ruangan sudah mengeluarkan mau tidak sedap akibat dari kotoran dan tidak terawat.

Banyak pihak berharap agar pihak dinas kesehatan meninjau kembali keberadaan poskesdes dan mengaudit penggunaan obat obatnya.

(edy tumanggor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here