Labuhanbatu dan Melayu

0
221

Oleh. Ahmad Fadhly.

 

Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu di belum lama ini menggelar perlombaan tari dan pakaian adat Melayu yang di ikuti 9 kecamatan yang ada di kabupaten itu. Cukup menariknya, ada kesan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu mengakui masyarakat asli daerah tersebut merupakan suku Melayu.

Sementara terkesan lucu, mayoritas masyarakat di daerah itu memiliki marga dibelakang nama yang menunjukkan suku lainnya yang ada di provinsi Sumatera Utara bukan mencerminkan etnis Melayu yang di ketahui tidak memiliki marga dibelakang nama.

Sama halnya dengan masyarakat Labuhanbatu yang berada di daerah pantai yang terlihat sangat indentik dengan budaya Melayu. Mulai dari makanan, budaya keseharian dan lainnya mencerminkan indentitas Melayu. Sementara itu, dibelakang nama masyarakatnya kerap menyematkan marga yang menunjukkan etnis Batak, Mandailing, Selatan.

Memang, bila melihat dari bahasa keseharian masyarakat Pantai Labuhanbatu, mereka menggunakan bahasa daerah tersendiri seperti suku-suku lainnya yang ada di Nusantara. Bahasa masyarakat pantai Labuhanbatu yang dikenal dengan bahasa Panai terdengar dialek dan gaya bahasanya cendrung kebahasa Melayu.

Selama ini, tak pernah ada terdengar dari sebuah lembaga atau masyarakat itu sendiri mengaku masyarakat yang tinggal di daerah pantai (Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah, dan Panai Hilir) menyebutkan bahwa masyarakat di sana Melayu. Terlihat masyarakatnya malah lebih dominan menggunakan marga.

Menelisik dominannya masyarakat Pantai Labuhanbatu menggunakan marga sangat masuk akal di karenakan sungai yang mengalir di daerah itu merupakan aliran sungai yang berasal daerah Selatan, nama sungainya Barumun.

Hal itu tidak menutup kemungkinan marga yang digunakan masyarakat Pantai Labuhanbatu berasal dari penyebaran penduduk sebelumnya menggunakan transportasi sungai dari daerah gunung turun ke daerah pantai. Keturunan itu lah penyebab masyarakat pantai memiliki marga.

Namun di ketahui juga, pada masa lampau daerah Pantai tepatnya di daerah Negeri Lama kecamatan Bilah Hilir, dan Labuhanbilik kecamatan Panai tengah merupakan daerah kerajaan Melayu. Sayangnya, peninggalan kerajaan Melayu di daerah pantai tidak dilestarikan oleh pemerintah maupun masyarakat setempat. Sehingga, sejarah Melayu lenyap tanpa bekas.

Melihat geliat Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu ingin melestarikan adat Melayu bahkan terkesan ada pengakuan berdasarkan motto daerah “Ika Bina En Pabolo” yang bunyi kalimatnya cenderung ke Melayu-layuan. Setidaknya, melalui dinas kebudayaan menggali sejarah Melayu di daerah Pantai, serta dinas perpustakaan mengarsipkan dan membuat sebuah tulisan keberadaan suku Melayu di daerah pantai dan membuat kamus bahasa khas Pantai Labuhanbatu yang dikenal dengan bahasa Panai. Sehingga, kebudayaan Melayu jelas keberadaannya di tanah Labuhanbatu. sehingga hal itu tidak menyesatkan pemikiran masyarakat terhadap sebuah kebudayaan suatu suku di Labuhanbatu.

Melayu indentik tanpa embel marga, Marga indentik dengan Batak. Tak ada istilah Batak Melayu, dan tak ada Melayu Batak.

(Penulis adalah Kordinator Liputan beritaterbaru.wiki Sumut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here