Teori Habermas Menuju Masyarakat Komunikatif

0
154

Oleh: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

 

Masyarakat komunikatif merupakan tujuan universal masyarakat. Demikian kira-kira landasan proyek yang hendak dilakukan Habermas melalui teori kritis yang digagasnya. Dasarnya, konsensus yang universal dan bebas dari dominasi merupakan kehendak fundamental setiap hubungan sosial.

Konsensus universal bisa dicapai dalam sebuah masyarakat yang reflektif (cerdas) yang berhasil melakukan komunikasi yang memuaskan. Di dalam komunikasi itu, para partisipan ingin membuat lawan bicaranya memahami maksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebutnya “klaim-klaim kesahihan” (validity claims). Klaim-klaim inilah yang dipandang rasional dan akan diterima tanpa paksaan sebagai hasil konsensus.

Suatu masyarakat dapat disebut sebagai masyarakat komunikatif jika memenuhi empat macam klaim. Pertama, klaim kebenaran (truth), kalau kita bisa sepakat tentang dunia alamiah dan objektif. Kedua, klaim ketepatan (rightness), kalau sepakat tentang pelaksanaan norma-norma dalam dunia sosial. Ketiga, klaim autentisitas atau kejujuran (sincerety), kalau sepakat tentang kesesuaian antara dunia batiniah dan ekspresi seseorang. Keempat, klaim komprehensibilitas (comprehensibility), kalau kita bisa menjelaskan macam-macam klaim itu dan mencapai kesepakatan atasnya. Orang yang mampu berkomunikasi dalam arti menghasilkan klaim-klaim itu, disebutnya memiliki “kompetensi komunikatif”.

Dalam masyarakat komunikatif, terdapat kesadaran kritis pada masing-masing pihak, baik komunikator maupun komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan rasio sebagai alat untuk mendominasi dan menguasai pihak komunikan (rasionalitas-kognitif-instrumental), sedangkan komunikan harus menghindari respons fatalistik, yang begitu saja menyerahkan total makna kebenaran kepada komunikator. Menurut Habermas, masyarakat harus dibangun kesadaran kognitifnya melalui transformasi informasi yang ”benar”.

Masyarakat komunikatif bukanlah masyarakat yang melakukan kritik lewat revolusi dengan kekerasan, melainkan dengan argumentasi. Ada dua macam argumentasi, yaitu diskursus dan kritik. Diskursus (discourse) digunakan jika kita mengandaikan kemungkinan untuk mencapai konsensus rasional. Diskursus untuk mencapai konsensus atas klaim kebenaran disebut ‘diskursus teoretis’, sedangkan untuk mencapai konsensus atas klaim ketepatan, dilakukan ‘diskursus praktis’. Akhirnya, diskursus untuk untuk mencapai konsensus komprehensibilitas disebut ‘diskursus eksplikatif’.

Meskipun dimaksudkan untuk konsensus, komunikasi juga bisa terganggu, sehingga kita tak perlu mengandaikan konsensus. Dalam hal ini, Habermas berbicara tentang kritik. Ada dua jenis kritik dalam konsep Habermas. Pertama, kritik estetis, yaitu mempersoalkan norma-norma sosial yang dianggap objektif. Kalau diskursus praktis mengandaikan objektivitas norma-norma itu, kritik dalam arti ini adalah mempersoalkan kesesuaiannya dengan penghayatan dunia batiniah kita. Kedua, kritik terapeutis, yaitu kalau kita menyingkapkan penipuan-diri masing-masing pihak yang berkomunikasi. Kritik dalam arti inilah yang sejak tahun 1960-an ditunjukkan modelnya dalam psikoanalisis. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here