Bagaimana Kritis yang Etis?

0
163

Oleh: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

 

Sikap kritis, kadangkala dengan mudah berkembang menjadi adu argumentasi yang tampak “sadis” dan “traumatis” bagi kedua belah pihak yang berdebat. Apalagi dalam masyrakat Timur di mana senioritas seringkali diindentikkan dengan kebijaksanaan dan otoritas.

Oleh karena itu, bukan kebetulan bahwa tokoh-tokoh pemikir yang kritis dan pejuang yang revolusionar, seperti Che Guevara, Mahatma Gandhi, serta Frantz Fanon berungkali menekankan bahwa orang-orang revolusioner harus punya segudang rasa cinta (love). Seperti kata Che Guevara: Walaupun dengan resiko ditertawakan, saya ingin mengatakan bahwa seorang revolusioner sejati dituntun oleh rasa cinta yang kuat. Mustahil membayangkan seorang revolusioner yang otentik tanpa sifat begitu (cinta yang kuat).
Selanjutnya yang perlu dikembangkan oleh para kritikus adalah pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan kita. Kita tidak perlu secara mutlak menganggap telaah kita yang paling benar. Kita harus selalu siap merevisi pendapat kita, yang mungkin saja sangat diwarnai oleh pengalaman dan pendidikan formal kita.

Maka dari itu, pertanyaan pertama dalam metodologi power reflexive yang dianjurkan Stephen Pfohl adalah seberapa jauh faktor-faktor biografis kita, seperti kelas, kelamin, kelompok etnis, ras, pendidikan, atau faktor-faktor lain, ikut mempengaruhi pandangan kita terhadap apa yang sedang kita telaah.

Kesediaan untuk mempertanyakan kemungkinan bias para kritikus juga penting, untuk mencegah kecenderungan pengkambinghitaman secara konyol yang mudah timbul akibat sikap dogmatis dan doktriner. Seperti kata Gandhi; “Hukum emas dalam perilaku adalah menjunjung tinggi suatu toleransi timbal-balik, yang didasarkan pada kesadaran bahwa kita tidak akan pernah berfikir serupa dan kita juga selalu akan melihat kebenaran dalam kepingan-kepingan dan dari sudut yang berbeda-beda.“ Wanti-wanti Gandhi ini lebih penting lagi, sebab bahaya pengkabinghitaman kelompok tertentu, dan dengan mudah membuat kelompok yang lebih pantas untuk digugat akan luput dari perhatian.

Sikap kritis yang etis juga menuntut, seperti diingatkan Gandhi-pada kritikusnya untuk berusaha menginternalisasikan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dikampanyekan, dan bukan sekedar mengkhotbahkannya kepada yang lain. Tuntutan demikian terasa penting bagi kalangan akademisi dan banyak kalangan lain ditanah air kita, yang tampak masih jauh dari penerapan prinsip “satunya perkataan dengan perbuatan.”

Sikap kritis yang etis berikutnya yang penting juga bagi aktivis mahasiswa adalah kepemilikan rasa tanggung jawab bersama. Sebutlah contoh adanya sebuah kebijakan yang dilakukan oleh universitas, maka itu bukan hanya tanggungjawab rektor atau yayasan saja, akan tetapi juga secara moral menjadi tanggungjawab seluruh civitas akademika.

Hal yang sama, apa yang tengah dilakukan bangsa ini adalah juga merupakan tanggungjawab warga bangsa ini.Dan pada akhirnya semua itu menjadi tanggungjawab kolektif kita sebagai manusia, menghendaki diri kita untuk ikut merasa tergerak terhadap segala macam bentuk pelanggaran yang tengah terjadi. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here