Analisis Filsafat, Pemikiran Tentang Manusia

0
154

Oleh: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

 

Beberapa pandangan para filsuf mengenai manusia, yakni manusia memiliki 2 elemen dasar yang terdapat pada dirinya, yaitu jiwa dan tubuh, dimana keduanya merupakan elemen yang berdiri sendiri, yang satu lepas dari yang lain. Jiwa berada di dalam tubuh manusia layaknya dalam sebuah penjara seperti yang diungkapkan oleh plato (428-348 SM) bahwa tubuh adalah musuh jiwa karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu. Maka, tubuh merupakan penjara bagi jiwa.

Sedangkan jiwa manusia, menurut pemikiran plato terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), ephitumia (nafsu), dan karena pengaruh nafsulah, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Hanya kematian yang akan melepaskan jiwa dari belenggu tersebut.

Kemudian, Demokritos (460-370) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwapun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin. Oleh sebab itu, tidak saling mengait antara satu dengan yang lainnya.

Walaupun begitu, ada aliran yang mengajarkan tentang aliran perpindahan jiwa, seperti halnya phytagoras. Phytagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahanya kedalam jasad hewan apabila manusia tersebut telah mati, dan apabila hewan tersebut mati dikemudian hari, maka jasadnya akan berpindah ke jasad lainnya, demikianlah seterusnya.

Perpindahan jiwa yang demikian ini disebut dengan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Oleh karena kajahatan dianggap telah bersemayam di dalam benda, maka tugas manusia adalah membebaskan diri dari pengaruh tubuhnya, dengan cara tidak memakan daging, bermusik, tidak melakukan persetubuhan, dan lain sebagainya. Paham Pythagoras yang seperti ini dianut oleh Appolonius dari Tyana.

Berbeda lagi dengan pandangan philo yang mempertemukan filsafat helinisme dengan agama yahudi dan lebih menitikberatkan pada aspek lain. Hal ini tampak jelas dalam pandangannya bahwa dalam strukturnya-manusia adalah gambar dari alam semesta.

Akan tetapi, manusia sebagai idea yaitu sebagai manusia yang tidak bertubuh dan telah ada sejak kekal di dalam logos. Lalu jiwa manusia dibedakan antara jiwa sebagai kekuatan hidup (psukhe) dan jiwa yang bersifat akali (nous, dianoia, psukhe logika). Jiwa sebagai kekuatan hidup berada di dalam darah dan tidak akan binasa. Jiwa yang bersifat akali atau nous adalah jiwa yang lebih tinggi, yang bersifat illahi.

Sebelum manusia dilahirkan, jiwanya sudah ada. Jiwa ini tidak dapat binasa, jiwa memasuki tubuh dari luar, dan di dalam tubuh jiwa itu terpenjara. Oleh karena itu, hidup di dalam dunia adalah sebuah kejahatan. Kematian mewujudkan suatu kebebasan, dimana orang dibangkitkan kepada hidup yang sejati dan kepada kebebasan.

Dan oleh sebab itu, dalam hal ini philo ingin menyebutkan bahwa tujuan hidup manusia ialah menjadi sama dengan Illah, adapun caranya adalah dengan menahan diri dari dunia dan segala nafsu, menentang perangsang yang datang dari luar dan mengarahkan diri kepada dirinya saja.

Berbeda lagi dengan pemikiran Thomas Hobbes. Menurut Thomas Hobbes manusia tidak lebih pada suatu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Oleh karena itu, maka segala sesuatu yang terjadi padanya dapat diterangkan dengan cara yang sama dengan cara menerangkan kejadian-kejadian alamiah, yaitu secara mekanis. Dengan kata lain manusia hidup selama darahnya beredar dan jantungnya bekerja, yang disebabkan pengaruh mekanis dari hawa atmosfir. Hidup manusia adalah gerak anggot-anggota tubuhnya.

Aristoteles pun berpikiran serupa dengan thomas hobbes, bahwa manusia merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu, tubuh adalah materi dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka pada saat manusia mati, maka kedua-duanya akan mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Namun, aristoteles berpikiran bahwa tidak ada kehidupan setelah mati. Jadi, kematian adalah akhir dari segala-galanya.

Pemikiran para filsuf tentang manusia terus berkembang, akan tetapi di dalam perkembangan tersebut tidak dapat disimpulkan tenalitasnya, terutama yang menyangkut kesempurnaan pemikirannya. Perkembangan pemikiran tentang manusia menunjukkan adanya upaya yang terus-menerus untuk menemukan hakikat manusia. Dan dalam hal ini, berarti ingin dicapai pengertian yang mendalam dan radikal tentang manusia oleh manusia itu sendiri.

*****
Dari keterangan yang seperti tertulis diatas, penulis memiliki sudut pandang lain tentang-mengenai manusia. Manusia adalah jiwa dan raga (tubuh) yang satu, keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Jika ada jiwa tanpa tubuh, maka jiwa hanya dapat disebut sebagai ruh. Dan jika ada raga tanpa jiwa, maka raga hanya dapat disebut dengan mayat.

Jiwa bagaikan seorang pemimpin, dan raga adalah fasilitatornya. Sebuah jiwa akan berarti menjadi seorang manusia apabila jiwa memiliki raga yang nantinya akan dikendalikannya. Begitupun sebaliknya, raga akan berarti menjadi seorang manusia apabila raga memiliki jiwa yang mengendalikannya. Dan oleh karena itu, kesatuan antara jiwa dan raga merupakan wujud keutuhan seorang manusia.

Tujuan akhir dari pencapaian manusia adalah mencapai sebuah tempat tertentu setelah kematiannya, atau sebut saja tempat tersebut adalah surga. Dan karenanya, untuk dapat mencapai tempat tersebut, manusia haruslah menjauhi hal-hal yang tidak baik, seperti halnya mencuri, membunuh, merendahkan orang lain, dan pada intinya adalah menjauhi segala larangan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Selain itu, manusia juga harus melakukan hal-hal yang baik terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya, dan pada intinya adalah menjalankan segala perintah yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Adapun aturan-aturan mengenai hal yang baik dan hal yang buruk tersebut merupakan sebuah komitmen antara manusia dengan Tuhan. Atau bisa dibilang tujuan akhir dari pencapaian manusia adalah sebuah kebahagiaan yang abadi, tanpa adanya akhir dari sebuah kebahagiaan tersebut.

penulis adalah penggagas Suluk Ndalanan, sebuah oase yang digagas untuk merekatkan kembali ikatan kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here