Phisical Distancing Dengan Tradisi Minangkabau.

0
569

Oleh : Adi Saputra

Istilah Phisical Distancing yang artinya pembatasan fisik atau jaga jarak, mendadak populer belakangan ini. Ia hadir, seiring merebaknya wabah atau pandemi covid-19 di negara kita. Begitu juga dengan istilah lockdown, kendati terkait dengan konteks kondisi perekonomian namun keduanya menunjukkan pertimbangan pilihan dan konsekuensi kebijakan yang berbeda.

Dengan cara mengurangi berada di kerumunan orang banyak, disitu dinilai bisa mengurangi risiko seseorang tertularnya virus korona. Bahkan kebijakan untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah, juga terus di tekankan oleh pemangku kepentingan.

Jadi, jelaslah bahwa pembatasan fisik yang dimaksud sangat jelas maknanya dengan menjaga jarak antara satu orang ke orang lain secara fisik. Secara ilmiah kedokteran, jarak satu orang ke orang lain secara fisik sangat masuk akal dan bisa diterima.

Karena, dengan menjaga jarak fisik antara satu dengan yang lain akan mencegah kemungkinan penularan virus korona. Metode penularan virus ini memang sangat spesifik, mudah berjangkit dengan berpindah dan berkembang eskalatif.

Maka dari itu, segala hal yang berkaitan dengan kontak fisik apalagi melibatkan kerumunan atau banyak orang harus dihindari. Pandemi membuat kita harus membangun Phisical Distancing dalam kehidupan, selama masih adanya penyebaran virus.

Namun dalam hal ini, bisa terjadi perbedaan pemahaman dan suatu keharusan yang terjadi di tengah masyarakat. Adanya satu sama lain yang harus saling mendekat dan menyatu dalam berempati. Berempati ialah inti dari solidaritas, kebersamaan dan kegotongroyongan. Tanpa adanya itu, solidaritas sosial kemasyarakatan yang lebih luas tak akan terbangun. Padahal kita memerlukan itu, dalam menghadapi perkembangan virus korona.

Sistem Phisical Distancing sangat alamiah, berbagai filsuf memandang bahwa pada hakikatnya kondisi alamiah manusia itu satu sama lain saling membutuhkan. Sehingga itulah yang mendasari kolektivitas, bahkan dalam konteks perkembangan manusia yang akhirnya berjalan secara egois di bidang masing-masing. Pada hakikatnya dia tak bisa bekerja sendiri, dia perlu kolaborasi dengan yang lain.

Di Sumatera Barat ranah Minangkabau, berbagai tradisi masih sangat kental di tengah masyarakat dan merupakan kebiasaan yang membudaya. Hingga saat ini, tradisi tersebut masih di lakukan oleh masyarakat setempat.

Tradisi atau disebut juga dengan kebiasaan adat merupakan suatu kegiatan ritual yang sudah dilaksanakan sejak lama dan terus menerus, sehingga menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat.Pengertian lain dari tradisi adalah segala sesuatu yang diwariskan atau disalurkan dari masa lalu ke masa saat ini atau tetap bertahan hingga sekarang.

Hampir disetiap bulan-bulan tertentu, sebagian masyarakat di Minangkabau melakukan tradisi yang melibatkan banyak orang dan mengundang keramaian. Seperti makan bajamba atau juga disebut makan barapak, tradisi malamang, maniliak bulan dan masih banyak lagi tradisi lainnya.

Makan Bajamba ini adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, dengan cara nasi dan lauk dalam satu wadah atau dulang, makan dengan duduk bersama-sama mengelilingi wadah tersebut dan berada dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan.

Kegiatan Malamang adalah tradisi nenek moyang masyarakat Minangkabau yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu. Tradisi Malamang hanya ada di daerah pesisir seperti di Padang Pariaman dan tradisi ini biasanya dilakukan ketika memperingati maulid nabi dan menyambut bulan Ramadhan.

Kemudian ada tradisi Maniliak Bulan, dimana kegiatan ini masih dilakukan sampai sekarang di pantai Ulakan kabupaten Padang Pariaman. Tradisi maniliak bulan merupakan upaya untuk melihat bulan secara bersama-sama yang dilakukan setiap tahun untuk memastikan datangnya bulan Ramadhan. Biasanya tradisi yang disebut juga melihat Hilal ini, dilakukan di pinggir pantai ketika menjelang matahari terbenam.

Praktik Phisical Distancing tetap penting dalam kerangka pencegahan, implementasi Phisical Distancing tentu membutuhkan sejumlah prasyarat, selain konteks sarana-prasarana yang menunjang juga kesadaran satu sama lain.

Sistem Phisical Distancing ini berbeda dengan lockdown, penutupan total atas kawasan atau wilayah tertentu manakala dikaitkan dengan konteks kebijakan politik. Implementasi Phisical Distancing, lebih bertumpu pada anjuran atau imbauan. Namun ketika suatu negara atau wilayah tertentu menerapkan lockdown, ia bukan lagi anjuran atau imbauan tapi kewajiban.

Meski demikian, secara praktik satu sama lain menunjukkan hal yang berbeda. Ini bisa kita lihat di beberapa daerah di Indonesia, penerapan lockdown tidak selalu berarti membatasi interaksi sosial secara ketat namun pembatasan itu diatur sesuai kebutuhan daerah. Semua ini tergantung kepada kita semua dalam menyikapi lockdown dan sistem Phisical Distancing, agar penyebaran virus korona dapat berhenti.

Seperti halnya di daerah Sumatera Barat, dari setiap tradisi Minang yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, akan selalu melibatkan orang banyak dan mengundang keramaian.Tentunya tidak mudah menerapkan sistem Phisical Distancing di Sumatera Barat, bahkan bisa saja timbul kontroversi dari berbagai kalangan masyarakat.

Namun, seiring dengan pemahaman dan pengertian dari masyarakat Sumatera Barat akan pentingnya menerapkan Phisical Distancing untuk keselamatan bersama. Apalagi di tengah-tengah penyebaran virus dan rata-rata daerah di Sumatera Barat masih terkategori zona aman. Maka masyarakat Sumatera Barat di ranah Minang, masih bisa melakukan tradisi mereka namun tetap dengan menerapkan protokol kesehatan covid-19. Ini bukan hanya ujian sejarah eksistensi manusia, namun juga ujian kepemimpinan bagi pihak-pihak yang memiliki otoritas.

Maka dari itu, marilah kita terapkan sistem Phisical Distancing sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus korona dan bergerak bersama-sama dan disiplin melakukan protokol kesehatan dalam melawan covid-19 yang kita tidak tahu kapan akan berakhir.

Penulis adalah: Ketua Karang Taruna Kec. Ulakan Tapakis Kab. Padang Pariaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here