Kemarin kecil sekali, di sini persis di seberang rumah saya, tetapi hari ini sudah melebar. Menyeramkan. Kami khawatir gedung bisa runtuh dan anak-anak kami bisa jatuh

Goma (ANTARA) – Lebih dari 20.000 orang kehilangan rumah dan 40 lainnya hilang akibat letusan gunung berapi di Kongo timur yang menewaskan puluhan orang dan terus menyebabkan gempa bumi kuat di kota terdekat Goma, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu.

Letusan pada Sabtu (22/5) menimbulkan sungai lava yang mengalir menuruni lereng bukit dari Gunung Nyiragongo. Bencana itu menghancurkan ratusan rumah dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Awan abu yang disebabkan oleh letusan telah menutup bandara di Goma dan Bukavu, dan kemungkinan menyebabkan penyakit pernapasan, kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) PBB dalam sebuah pernyataan.

Orang-orang yang meninggalkan rumah mereka telah kehilangan harta benda berharga termasuk sepeda motor yang hancur oleh aliran lahar, atau dijarah, kata OCHA.

Lebih dari 200 gempa bumi berkekuatan kecil dan menengah telah menyebabkan retakan di gedung dan jalan di Goma, yang berjarak 15 kilometer dari Nyiragongo. Sejauh ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, tetapi retakan tersebut telah menyebabkan kepanikan di antara warga yang tidak yakin apakah bahaya telah berlalu.

“Kemarin kecil sekali, di sini persis di seberang rumah saya, tetapi hari ini sudah melebar. Menyeramkan. Kami khawatir gedung bisa runtuh dan anak-anak kami bisa jatuh,” kata Susanne Bigakura (65), merujuk pada retakan akibat letusan gunung.

Iklan

Sungai lava sepanjang 1,7 kilometer yang menutup jalan utama utara dari Goma masih terlalu panas untuk disingkirkan, kata OCHA, mencegah pengiriman perdagangan dan bantuan ke salah satu tempat paling rawan pangan di Afrika.

Namun, beberapa pekerjaan telah dimulai untuk memulihkan jalan, menurut gambar yang diunggah pemerintah di Twitter.

Sumber: Reuters

Baca juga: Gunung meletus di Kongo timur, ribuan orang mengungsi

Baca juga: Warga Korsel tak perlu pakai masker jika telah divaksin COVID-19

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani

Editor: Fardah Assegaf

COPYRIGHT © ANTARA 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here