Dairi-BeritaTerbaru.Wiki.Dana pendidikan atau yang disebut Biaya Operasional Sekolah (BOS) disinyalir jadi lahan oknum pendidik bermental “maling” dan tidak sedikit pula oknum kepala sekolah harus berurusan dengan penegak hukum dan jadi penghuni penjara karena perilakunya yang tidak terpuji, yang nekat menyelengkan dana generasi bangsa, semata-mata untuk memperkaya diri.

Rata-rata oknum pendidik dalam mengalokasikan dana BOS kerap di gelembungkan angka-angka, dan terkadang juga tidak kordinasi dengan komite dan guru-guru lain dalam alokasinya, oknum kepsek kerap hanya kordinasi dengan operator sekolah dalam penentuan angka.Akibatnya dana BOS yang ditetima habis terpakai, namun hasil sangat minim.

Dugaan adanya praktek korupsi terhadap alokasi dana BOS Ini juga terendus di SMPN 1 Lae Parira Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera utara.Sebab adanya barisan sakit hati diantara oknum pendidik membocorkan indikasi dugaan mark up yang dilakukan oleh atasanya pada media ini.

Agaknya indikasi itu bukan hanya isapan jempol belaka, media ini yang berusaha untuk melakukan klarifikasi pada Hitler Naibaho.Sp.d selaku kepala sekolah SMPN 1 Lae Parira Dairi 29/11 berusaha menghindar dengan alasan sedang mengajar dan mau rapat.ciri-ciri ini adalah sebuah tanda bahwa oknum kepsek ini bukanlah tipe pengayom dan perlu di selidiki kinerjanya khususnya dalam penggunaan dana pendidikan.

“Kepala sekolah SMPN 1 Dairi ini sok orang bersih dan agak angkuh, penggunaan dana BOS juga kurang transfaran dan disinyalir jadi ajang korupsi , maka media harus berani mengungkap ke punblik,biar masyarakat tahu dugaan itu” ucap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Iklan

Untuk diketahui, SMPN 1 Lae Parira Dairi hingga triwulan tiga tahun 2019 mendapat kucuran dana BOS dalam Penerimaan Dana triwulan satu Rp.117.200.000, triwulan dua Rp.234.400.000, triwulan tiga Tp.117.200.0000. Dan yang menjadi sorotan yang diduga mark up pada Pengembangan Perpustakaan Rp.3.895.000, Rp.60.680.000, Rp.22.450.000.jumlah Dana Pembelian Buku Rp.10.000.000.Jumlah Eksemplar Buku 50001.b.2Jumlah Dana Pembelian Buku Rp.3.750.000.

Pengembangan Perpustakaan Lainnya pada Pengembangan Non Buku Text Rp.3.895.000, Rp.46.930.000, Rp.22.450.000. Kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru Rp.10.240.000.Kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler siswa Rp.34.000.0000, Rp.10.260.000.Kegiatan evaluasi pembelajaran Rp.22.720.000, Rp.30.670.000, Rp.2.500.000.Pengelolaan sekolah Rp.23.200.000, Rp.89.015.000, Rp.25.905.000.

Pengembangan profesi guru dan tenaga pendidikan, serta pengembangan manajemen sekolah Rp.4.700.000, Rp.5.000.000.Langganan daya dan jasa Rp.3.000.000, Rp.4.500.000, Rp.5.250.00008.Pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana sekolah Rp.12.550.000, Rp.21.000.000, Rp.6.720.000.Pembayaran honor Rp.17.835.000, Rp.17.835.000, Rp.22.875.0000.Pembelian/perawatan alat multi media pembelajaran Rp.6.000.000, Rp.6.000.0000.

Lebih jauh sumber mengatakan, setiap kegiatan dijamin 100% mark up, kalau kepsek tidak mengaku itu hal biasa, karena tidak ada maling ngaku maling,disini media harus ulet untuk melakukan pengungkapan dan bekerja sama dengan penegak hukum, yakin Pak Hitler Naibaho sebagai kepsek belangnya akan terungkap, terang sumber. (Jhon  Girsang) bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here