Karawang-BeritaTerbaru.Wiki.Setiap proyek tentu diharapkan bisa berjalan dengan baik dan mencapai hasil sesuai perencanaan.Pihak kontraktor proyek harus bisa mencapai hasil sesuai harapan masyarakat dan pemerintah.Mutu atau kualitas proyek dapat dikerjakan oleh sebuah tim yang dikepalai oleh seorang manager propesonal bukan hanya mengejar keuntungan.

Hal itu ditegaskan oleh H.Marjuni,SH selaku ketua umum Lembaga Swadaya Masyarakat Gempar Peduli Rakyat Indonesia (LSM GPRI) dalam menanggapi akan buruknya kwalitas pengerjaan pemasangan turap di dua lokasi yang berada di Desa Kedawung Kecamatan Telagasari Karawang.

“Setelah saya amati foto pekerjaan ini, saya pastikan bahwa oknum kontraktor dalam menjalankan tugaskan ada istilah main tembak, main tembak dalam campuran adukan pasangan. Selain itu, ada dugaan upaya manipulasi volume fisik, seperti tidak maksimalnya galian tanah untuk pondasi, apalagi pekerjaan ini adanya di dalam lumpur, jadi sangat mudah dimanipulasi kondisi dilapangan” terang Arjun biasa disapa.

Seraya berharap, Kabid SDA PUPR H.Dudih harus menegur pihak kontraktor dan juga pengawas, karena keduanya sangat bertanggungjawab dilapangan, jangan sampai oknum pengawas juga ikut-ikutan berbuat bodoh dilapangan, proyek ini pakai uang negara bukan uang nenek moyang mereka. Tegas Arjun.

Ahmad yang disebut-sebut sebagai mandor sulit ditemuin, walaupun awalnya Ade Nano selaku pemborong sudah menganjurkan agar ketemu dilapangan untuk melakukan klarifikasi namun apa yang di anjurkan tetap sang mandor tidak mau nongol.

Iklan

Menurut rekanya dilapangan ketika menghubungin Ahmad mengatakan, Ahmadnya tidak bisa pastikan datang, tapi agaknya dia merasa dan berpikir ngapain media ikut-ikut campur urusan proyek.ucapnya.

Untuk ketahui, pengerjaan turap saluran tersier di desa Kedawung tepatnya di belakang kantor Desa Kedawung diduga keras dikerjakan asal jadi dan tidak mengacu pada speack yang ada, galian pondasi yang hanya kedalaman 10 Cm sangat mencurigakan, ditambah lagi campuran adukan semen pasir asal tebak, sehingga sangat di khawatirkan kualitas pasangan batu sangat rendah dan mudah ambruk.

Leluasanya pihak pelaksana mengerjakan pekerjaan semaunya, tidak terlepas mandulnya pengawasan dari pihak Dinas PUPR yang hanya tidak mau tau akan kwalitas pekerjaan. Patut di curigai oknum pengawas di duga ada kerja sama dengan pihak pelaksana yang bermain dilapangan demi mengisi pundi-pundinya, walaupun harus mengorbankan uang rakyat dan merugikan rakyat petani.

Ahmad sang mandor ketika di hubungin via telepon selulernya mengindar dan minta wartawan ketemu dilain waktu.” Saya belum bisa ke lapangan, masih nunggu bos, nantilah kita kontek kontekan” jawabnya diujung telepon. (B)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here