Way Kanan-BeritaTerbaru.Wiki. Ketua DPC LSM GPRI  Waykanan Rike Ependi, mendukung penegakan hukum dan mengapresiasi aparat Penegak Hukum Polres Lampung Utara dalam memproses hukum,  terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT), Ke-3 oknum LSM kepada Kepala Desa di Kabupaten Lampung Utara bebarapa baru-baru ini.

“Memang benar, aparat harus menindaklanjuti setiap laporan masyarakat. Namun tentunya perlu adanya pertimbangan yang dapat di ambil dari peristiwa OTT di maksud, dalam hal ini saya melihat dari kronologisnya, fakta ini ada pemberi dan penerima patut di duga suap Oknum Kepala Desa kepada ke 3 oknum LSM yang berakhir dengan Oprasi Tangkap Tangan OTT,” Kata Ketua Gempar Peduli Rakyat Indonesia (GPRI) Kamis (24/12/2020).

Dengan fakta ini  saya meminta Aparat Penegak Hukum, Wilayah Hukum Polres Lampung Utara, agar kiranya dapat juga menproses Oknum Kepala Desa selaku Pemberi uang yang beralasan takut di laporkan ke pihak-pihak yang berwajib, ini sangat nampak sekali ada indikasi penyuapan dan saya berharap pemberi dapat juga di proses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” Pintahnya.

Diketahui, Polsek Abungbarat, Lampung Utara baru saja melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap tiga oknum LSM dan ditetapkan tersangka dan menahan.

Tersangka ialah Joni Padli (39), ketua LSM gabungan lembaga anti korupsi (Galaksi) Kotabumi, Sarwani (35), bendahara, dan Amir Hasan (34), anggota LSM tersebut, diringkus dan dituduh  memeras Kepala Desa Kamplas, Kecamatan Abung Barat, Suherman, sebesar Rp.3 juta.

Iklan

OTT inipun dibenarkan oleh  Iptu Onok Karyono, Kapolsek Abung Selatan, Lampung Utara kepada wartawan Jumat, 25 Desember 2020.

Dalam OTT menyita barang bukti berupa uang tunai Rp.3 juta dan tiga kartu anggota LSM Galaksi, HP serta surat laporan temuan LSM Galaksi yang ditujukan kepada Kapolres Lampung Utara.Dugaan Pemerasan tersebut bermula pada 21 Desember 2020. Tersangka Joni Padli, menghubungi korban Suherman, kepala Desa Kamplas meminta untuk bertemu di kantornya, Desa Madukoro Kotabumi Utara.

Alasannya, pihaknya memiliki temuan korupsi dana desa dan bumdes. Saat korban menemui tersangka, ketiganya mengancam hasil temuan akan dilaporkan ke Polres Lampung Utara, jika tidak memberikan uang Rp20 juta.

Merasa takut, kata Kapolsek, korban pun meminta keringanan dan menyanggupi dengan mahar Rp7 juta. Namun, saat itu korban tidak memiliki uang dan minta waktu sehari.

Pada 22 Desember 2020, tersangka Joni Padli, menyuruh tersangka Sarwani, untuk mengambil uang di rumah korban sebesar Rp5 juta. Sementara korban baru memiliki uang sebesar Rp3 juta dan kekurangan akan ditransfer. “Tapi saat itu juga tersangka kami tangakap,”.(rk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here